Cinta Segi Enam - Part 5
Waktu istirahat, sang anak baru yang notabene cakep gituh langsung dikerubuti cewek-cewek di kelas Alto. Sebenernya ga cuma cewek-cewek di kelasnya Alto aja, tapi cewek-cewek dari kelas tetangga ikut-ikutan nongol pingin tahu sapa sih anak baru yang katanya menghebohkan SMP Bhineka yang langka akan penghuni cowok cakep. Dalam kurun waktu kurang dari seminggu, Bryan jadi bahan pembicaraan yang paling anget-nget-nget dalam setiap perbincangan setiap murid dan guru, coz ga cuma cakep, Bryan juga orang yang rajin, ramah (bukan rajin menjamah loh!) n berwawasan luas. Mulai dari pelajaran geografi sampe Harry Potter dia ngerti sampe ke detail-detailnya. Well, hampir bisa dibilang perfect deh! Tentu saja hal itu membuat cowok-cowok di SMP Bhineka yang tenar maupun yang ga tenar merasa tersaingi oleh kedatangan Bryan dan membuat mereka ngerasa iritasi jadinya, apalagi cewek-cewek di SMP Bhineka rata-rata matanya kalo kayak yang di komik-komik gitu ada bentuk hatinya kalo liatin Bryan, entah lagi duduk, jalan, basket, ato hanya bersenandung. Sapa yang ga iritasi coba, kalo gebetan mereka pun selalu dan selalu ngomongin cowok baru itu?
Alto cs. pun ga luput dari pandangan iri, sinis bin menusuk dari cewek-cewek laen yang pengen deket sama Bryan. Maklum, walo Bryan suka bergaul sama sapa aja, ujung-ujungnya juga dia ngerasa lebih deket sama Alto cs. “They’re different with all the girls I’ve ever meet. They’re so unique.” Sapa yang ga bangga coba? Alto cs. sendiri nggak terlalu terganggu, coz mereka deket sama Bryan jugak bukan karena dia cakep ato pinter, tapi karena Bryan emang bisa langsung klop sama mereka, entah kenapa, semua pembicaraan selalu jadi diskusi seru. Alto dengan Harry Potternya (bisa ditebak), Deva tentang pandangan cewek tentang cowok, Okita dengan pergaulan, dan Dinda dengan pelajaran matematika.
***
Sebulan setelah kepindahan Bryan, mulai bermunculan bunga, surat, cokelat dan segunung hadiah lain di meja Bryan. Doi ga ngerti kenapa ada hadiah-hadiah yang muncul di mejanya, padahal dia ga lagi ultah. Dia ga tahu dari siapa aja, tapi dia mengira itu dari kawan-kawannya yang iseng. Waktu dia bertanya pada mereka, ternyata semua hadiah itu dari penggemar-penggemarnya. Di SMP Bhineka kabarnya malah dibentuk BWFC, Bryan West Fans Club! Anggotanya tentu aja cewek-cewek yang ngefans sama Bryan. Bryan awalnya sih happy-happy aja, tapi lama-lama dia ngerasa kok jadi berlebihan gituh… Gimana nggak, layaknya seorang artis, setiap dia keluar dari kelas dia selalu disamperin cewek-cewek, kenal ato nggak, sok kenal sok akrab ke Bryan. Kawan-kawannya jadi korban, sering ditanya-tanya tentang dimana rumahnya, berapa nomer telponnya, dia suka apa, de es be. Kalo lagi sensi, maka Okita yang jadi tameng, mengusir fans-fansnya Bryan yang ga tau diri kayak gitu, “Kita ga tau apa-apa tentang Bryan, MENDING TANYA AJA SAMA ORANGNYA!!” Dengan perawakan tinggi besar layaknya bodyguard dan muka sangar, tentu aja mereka pada keder dan ga berani macem-macem lagi. Untuk sementara semua kembali tenang.
***
Tapi ternyata ga semua cewek ngefans sama Bryan. Seenggaknya bisa diitung dengan jari. Selaen Alto, Deva, Dinda, Okita yang emang sohiban sama Bryan karena doi emang asyik diajak ngobrol n curhat, ada Micha, cewek manis, berperawakan langsing, berkulit kuning langsat, anggun, berambut hitam panjang dan suka memakai bandana warna putih, dari kelas tetangga, IX G, dan bisa dibilang kenalan Okita. Kalo ke kelas IX H, selain mencari Okita, dia biasa mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas, seperti mencari-cari seseorang… Bukan, kayaknya bukan Bryan deh, Bryan lagi ada di depan ngobrol sama Dinda. Pandangannya lebih mengarah kepada seorang cowok tinggi berkacamata dengan bibir monyong dan bersuara cempreng, yang lagi nguber Alto dengan giatnya, yang kemudian disambut Alto dengan tendangan maut ke arah tulang kering dan membuat langkah cowok itu terhenti seketika. Kelas pun riuh dengan suitan-suitan yang tak asing di telinga, ”Swiitt..Swiiwww… Suami istri bertengkar terus, duh mesranya…!!” Langkah mereka terhenti, Alto kembali ke bangkunya, mencari buku Harry Potter 4 yang belum selesai dibacanya, dan serangan mendadak mendarat di kepalanya, membuat Alto mengaduh dan secepat kilat melirik tajam dan mengancam agar sang pelaku tak lagi macam-macam. Pelaku sendiri cengengesan, senyum tengilnya tersungging, tak memperhatikan Micha yang sedari tadi memperhatikannya dengan pandangan iri, sedih, sekaligus cemburu campur aduk jadi satu.
