Circle of Love

July 9, 2006

Cinta Segi Enam - Part 8

Filed under: Cintah, Friendship - alto @ 2:38 pm

”Kamu bisulan, Ta?” tanya Wahyu tiba-tiba. Okita kaget, dan mendengus sebal, ”Enak aja, sapa ngomong gitu?” Wahyu tersenyum dengan tampang innocent, dan berkata, ”Kirain… Ini tentang anak-anak ya Ta?” Okita mengangguk. ”Ada hubungannya sama Alto n Ardi?” Okita mengangguk lagi. ”Sekali lagi kamu ngangguk, aku kasi piring cantik.” Okita nyengir, ngangguk lagi (biar dapet piring cantik gituh. Hehehe).

Okita pun menceritakan apa yang dia rasakan tentang Micha, Alto dan Ardi. Wahyu mendengarkan dengan serius, sambil sekali-kali nyomot kacang bawang yang dia beli di kantin sebelum ketemu Okita. ”Jadi… Micha suka Ardi, Ardi suka Alto, Alto suka Bryan, gitu?” simpul Wahyu. Dia menggambarkan diagram antara mereka berempat.

Dia termenung sejenak. Entah kenapa tiba-tiba dia mengingat Poppy ketika menuliskan Bryan. Poppy, orang yang disayanginya secara diam-diam. Teman sekelasnya yang manis, putih dan berambut sebahu, orang yang baik dan lincah, pintar lagi. Dia termasuk 3 besar di kelasnya, selain Alto dan Ardi. Secara tidak sengaja Wahyu tahu kalau Poppy sangat mengagumi tipe-tipe seperti Bryan, dan itu mau tidak mau membuatnya terpukul. Dia pun menuliskan nama Poppy dan namanya dalam diagram itu.

”Wait wait… Kamu naksir Poppy ya?” sergah Okita waktu melihat nama Wahyu dan nama Poppy dalam diagram itu. Wahyu tidak merespon perkataan Okita, dia sepertinya malah tenggelam di dunia lamunannya sendiri, lamunan tentang Wahyu, Poppy, dan Bryan. Terlihat sosok Poppy yang tersipu malu-malu, memandang ke arah Wahyu. Wahyu pun merasa salah tingkah, jantungnya berdegup kencang. Saat dia akan menghampiri Poppy, ternyata di belakang Wahyu muncul Bryan, yang tanpa malu-malu berlari menuju Poppy, dan sebelum mereka pergi, Bryan memanah Wahyu tepat di hatinya, yang terbelah menjadi dua. Poppy dan Bryan pun melenggang meninggalkan Wahyu yang sedang patah hati…

”Kraukk… Kraukkk…. Kraukkk…” Suara-suara aneh mulai membangunkan Wahyu dari dunia lamunannya. Dilihatnya Okita yang tanpa malu-malu menghabiskan kacang bawang milik Wahyu, hingga yang tersisa hanya bungkusnya. Wahyu cuma bisa melongo, menatap tingkah ajaib kawannya yang doyan makan ini.

March 17, 2006

Cinta Segi Enam - Part 7

Filed under: Cintah, Friendship - alto @ 12:54 pm

”Psstt… Ta, yang tadi ke kelas tuh, yang nyariin kamu namanya sapa sih?” bisik Alto saat bel pertanda berakhirnya istirahat berakhir.

”Yang mana? Micha?” jawab Okita seenaknya, tanpa memperhatikan Alto lebih lanjut. Dia memilih mengeluarkan sebatang cokelat simpanannya dan membuka bungkusannya.

”Micha…? Ngg… Iya kali. Kayaknya dia ada feeling deh sama Ardi…”

”Ah masa? Kalo misalnya iya kenapa, jealous yah? Hayoo… Alto jealous ya…”

CTAAKK!! Sebuah jitakan jitu mengenai kepala Okita.

”Nggaklah! Aku cuma ngerasa gitu, ada yang beda aja waktu dia liatin Ardi. Beda banget waktu mandang kita. Kayak gimanaa… gitu.”

Mau nggak mau Okita juga merenungi apa yang diomongin Alto barusan. Dia sebenarnya juga ngerasa ada yang aneh sama Micha setiap kali melihat Ardi. Tapi Okita liat Ardi ga pernah bersikap yang aneh-aneh pada siapapun kecuali (tentu saja) pada Alto. Alto sendiri juga walo sering diusilin n ngusilin Ardi kliatannya fine-fine aja, alias ga ada sesuatu yang aneh atau gejala-gejala jatuh cinta sama Ardi. Okita malah ngerasa Alto ada chemistry sama Bryan, cowok pindahan baru itu. Dari sikapnya yang bersemangat, obrolan yang selalu nyambung n seru, sampe kemana-mana jalan bareng kecuali ke toilet tentunya. Sungguh, kayaknya ada sesuatu yang terjalin di antara mereka berdua, walo mereka belum mau mengakuinya.

”Mikirin sapa, Ta?”

Bisikan yang mampir ke kupingnya membuat Okita kaget bukan main. ”MONYONG!! Kirain sapa!! Jangan bikin kaget ah!”

Wahyu tertawa terbahak-bahak, melihat reaksi kawannya yang sedang melotot kesal.

”Emang ada apa sih Ta, kok keliatannya serius banget? Cerita donk, siapa tau aku bisa bantuin kamu.”

Okita diam sesaat, memikirkan curhat sama Wahyu si calon psikolog gagal itu aja udah bikin eneg, tapi Okita tau walopun dia ga cerita, Wahyu bisa baca raut wajahnya dan menebak apa yang terjadi. Sama aja kan? Mendingan diomongin daripada jadi bisul, bisik Okita.

Cinta Segi Enam - Part 6

Filed under: Cintah, Friendship - alto @ 12:53 pm

”Hei, Micha…! Bumi memanggilmu..!!” teriak Okita tepat di telinganya. Micha yang sedari tadi memperhatikan seseorang spontan gelagepan dan kembali ke alam nyata.

“Oh iya Ta, aku sampe lupa, ini buku yang aku pinjem dari kamu kemarin. Thanks ya.“

Okita menerimanya dan menaruhnya di meja. Alto yang melihatnya langsung berdiri dan duduk di samping Okita.

“Ini Layar Terkembang kan? Yang ceritanya ada Tuti, Maria, dan Yusuf itu kan? Yang ceritanya emansipasi wanita itu kan?“

Begitulah Alto kalo udah ngoceh tentang buku. Kenal ato nggak sama lawan bicaranya, dengan semangat perjuangan dia bakal ngomongin itu buku sampe kelar. Micha terbengong-bengong, dan kemudian berbicara juga pada akhirnya.

“Iya… Kamu udah baca buku ini ya?“

“Alto sih buku-buku sastra di perpustakaan pasti udah baca! Siti Nurbaya, Salah Asuhan, apalagi Layar Terkembang!”

Tanpa disadari sudah ada Ardi yang berdiri di samping Okita dan berbicara barusan. Micha pun terkejut, dan entah kenapa wajahnya langsung memerah kayak kepiting rebus dan dia keliatan kikuk. Okita dan Ardi sendiri sepertinya tidak menyadarinya. Namun tidak demikian dengan Alto. Tumben-tumbennya si lemot itu serius memperhatikan perubahan ekspresi wajah Micha, tapi dia tidak berkata apa-apa.

February 18, 2006

Cinta Segi Enam - Part 5

Filed under: Friendship, My Rainbow - alto @ 3:08 pm

Waktu istirahat, sang anak baru yang notabene cakep gituh langsung dikerubuti cewek-cewek di kelas Alto. Sebenernya ga cuma cewek-cewek di kelasnya Alto aja, tapi cewek-cewek dari kelas tetangga ikut-ikutan nongol pingin tahu sapa sih anak baru yang katanya menghebohkan SMP Bhineka yang langka akan penghuni cowok cakep. Dalam kurun waktu kurang dari seminggu, Bryan jadi bahan pembicaraan yang paling anget-nget-nget dalam setiap perbincangan setiap murid dan guru, coz ga cuma cakep, Bryan juga orang yang rajin, ramah (bukan rajin menjamah loh!) n berwawasan luas. Mulai dari pelajaran geografi sampe Harry Potter dia ngerti sampe ke detail-detailnya. Well, hampir bisa dibilang perfect deh! Tentu saja hal itu membuat cowok-cowok di SMP Bhineka yang tenar maupun yang ga tenar merasa tersaingi oleh kedatangan Bryan dan membuat mereka ngerasa iritasi jadinya, apalagi cewek-cewek di SMP Bhineka rata-rata matanya kalo kayak yang di komik-komik gitu ada bentuk hatinya kalo liatin Bryan, entah lagi duduk, jalan, basket, ato hanya bersenandung. Sapa yang ga iritasi coba, kalo gebetan mereka pun selalu dan selalu ngomongin cowok baru itu?

Alto cs. pun ga luput dari pandangan iri, sinis bin menusuk dari cewek-cewek laen yang pengen deket sama Bryan. Maklum, walo Bryan suka bergaul sama sapa aja, ujung-ujungnya juga dia ngerasa lebih deket sama Alto cs. “They’re different with all the girls I’ve ever meet. They’re so unique.” Sapa yang ga bangga coba? Alto cs. sendiri nggak terlalu terganggu, coz mereka deket sama Bryan jugak bukan karena dia cakep ato pinter, tapi karena Bryan emang bisa langsung klop sama mereka, entah kenapa, semua pembicaraan selalu jadi diskusi seru. Alto dengan Harry Potternya (bisa ditebak), Deva tentang pandangan cewek tentang cowok, Okita dengan pergaulan, dan Dinda dengan pelajaran matematika.

***

Sebulan setelah kepindahan Bryan, mulai bermunculan bunga, surat, cokelat dan segunung hadiah lain di meja Bryan. Doi ga ngerti kenapa ada hadiah-hadiah yang muncul di mejanya, padahal dia ga lagi ultah. Dia ga tahu dari siapa aja, tapi dia mengira itu dari kawan-kawannya yang iseng. Waktu dia bertanya pada mereka, ternyata semua hadiah itu dari penggemar-penggemarnya. Di SMP Bhineka kabarnya malah dibentuk BWFC, Bryan West Fans Club! Anggotanya tentu aja cewek-cewek yang ngefans sama Bryan. Bryan awalnya sih happy-happy aja, tapi lama-lama dia ngerasa kok jadi berlebihan gituh… Gimana nggak, layaknya seorang artis, setiap dia keluar dari kelas dia selalu disamperin cewek-cewek, kenal ato nggak, sok kenal sok akrab ke Bryan. Kawan-kawannya jadi korban, sering ditanya-tanya tentang dimana rumahnya, berapa nomer telponnya, dia suka apa, de es be. Kalo lagi sensi, maka Okita yang jadi tameng, mengusir fans-fansnya Bryan yang ga tau diri kayak gitu, “Kita ga tau apa-apa tentang Bryan, MENDING TANYA AJA SAMA ORANGNYA!!” Dengan perawakan tinggi besar layaknya bodyguard dan muka sangar, tentu aja mereka pada keder dan ga berani macem-macem lagi. Untuk sementara semua kembali tenang.

***

Tapi ternyata ga semua cewek ngefans sama Bryan. Seenggaknya bisa diitung dengan jari. Selaen Alto, Deva, Dinda, Okita yang emang sohiban sama Bryan karena doi emang asyik diajak ngobrol n curhat, ada Micha, cewek manis, berperawakan langsing, berkulit kuning langsat, anggun, berambut hitam panjang dan suka memakai bandana warna putih, dari kelas tetangga, IX G, dan bisa dibilang kenalan Okita. Kalo ke kelas IX H, selain mencari Okita, dia biasa mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas, seperti mencari-cari seseorang… Bukan, kayaknya bukan Bryan deh, Bryan lagi ada di depan ngobrol sama Dinda. Pandangannya lebih mengarah kepada seorang cowok tinggi berkacamata dengan bibir monyong dan bersuara cempreng, yang lagi nguber Alto dengan giatnya, yang kemudian disambut Alto dengan tendangan maut ke arah tulang kering dan membuat langkah cowok itu terhenti seketika. Kelas pun riuh dengan suitan-suitan yang tak asing di telinga, ”Swiitt..Swiiwww… Suami istri bertengkar terus, duh mesranya…!!” Langkah mereka terhenti, Alto kembali ke bangkunya, mencari buku Harry Potter 4 yang belum selesai dibacanya, dan serangan mendadak mendarat di kepalanya, membuat Alto mengaduh dan secepat kilat melirik tajam dan mengancam agar sang pelaku tak lagi macam-macam. Pelaku sendiri cengengesan, senyum tengilnya tersungging, tak memperhatikan Micha yang sedari tadi memperhatikannya dengan pandangan iri, sedih, sekaligus cemburu campur aduk jadi satu.

February 17, 2006

Cinta Segi Enam - Part 4

Filed under: Friendship, My Rainbow - alto @ 2:33 pm

Tak lama kemudian suasana gaduh, semua kembali ke tempat duduknya masing-masing. Dari kejauhan Bu Anik terlihat, bersama seorang cowok tinggi, putih, berhidung mancung asli, bermata biru, berambut kecoklatan dan… ganteng!

Ketika Bu Anik masuk kelas diiringi dengan masuknya tu cowok pindahan, semua langsung berteriak, ”Waahh…” apalagi yang cewek-cewek, ga sadar kalo yang di depan kelas ada Bu Anik yang kalo udah marah bisa kayak orang seriosa. Yang terlihat di mata mereka cuma cowok yang hmm… ganteng gitu loh!

Cowok itu pun tersenyum sopan, yang bagi cowok-cowok di kelas itu diartikan sebagai senyuman tebar pesona yang bisa bikin iritasi mata dan berbahaya bagi kelangsungan hidup mereka alias ini berarti nambah satu saingan berat untuk ndapetin cewek-cewek di kelas mereka maupun di kelas laen. Bu Anik pun menghentikan keriuhan paduan suara cewek-cewek yang udah keliatan ngiler ngeliat barang baru…eh maksudnya cowok baru di kelas mereka.

”Diaaaamm…!!!”

Setelah keadaan agak mereda, Bu Anik pun memperkenalkan cowok baru itu di depan kelas.

”Ini anak baru di kelas kita. Namanya Bryan West. Dia pindahan dari Irlandia. Saya harap kalian bisa bersikap baik kepadanya.”

Kemudian anak baru itu pun tersenyum dan memperkenalkan diri.

”Hi all, I’m Bryan. Nice to meet you all.”

“Nice to meet you..!!”

Bryan pun disambut dengan meriahnya dengan cewek-cewek penghuni XI H. Semua menatap kagum padanya, kecuali satu makhluk yang lagi baca Harry Potter. Sapa lagi kalo bukan Alto… Doi malah dengan tekunnya membaca bagian dimana Harry mengikuti turnamen Triwizard yang diadakan di Hogwarts. Okita berusaha menyadarkan Alto untuk kembali ke alam nyata, tapi ternyata hal itu membutuhkan proses yang amat lambat. Baru 10 menit kemudian Alto sudah kembali ke alam nyata dan dengan takjubnya menemukan seorang yang ehm… good looking sudah duduk di sebelahnya. Dia tak merasa ada mata-mata yang sinis dan bisik-bisik tetangga yang iri dengan Alto, yang tentu saja berasal dari gender perempuan, dan dia juga tidak merasa ada sepasang mata bola… (halah kok malah nyanyi) yang menatap Alto dan Bryan dengan perasaan cemburu setengah idup, tapi berusaha untuk dipendam untuk dirinya sendiri, tidak untuk konsumsi publik..

Bryan yang ramah dan pintar bicara berhasil menarik perhatian Alto. Dalam sekejap mereka cocok satu sama lain. Bahasa Inggris Alto mungkin tidak selancar Wahyu, tapi itu tidak mengurungkan niat mereka untuk bisa nyambung dan ngobrol banyak. Alto yang selama ini terlihat pendiam dan cuek di mata kawan sekelasnya terlihat berbeda dari biasanya. Dia seperti menemukan seseorang yang bisa begitu ’nyambung’ dengan obrolannya. Maklum, apalagi kalo bukan Harry Potter? Ternyata Bryan juga penggemar buku Harry Potter, dan sangat senang berkenalan dengan Alto yang notabene juga bookaholic yang doyan baca Harry Potter. Dalam sekejap mereka sudah terlibat diskusi seru tentang Turnamen Triwizard, bila saja Bu Anik tidak menghentikan mereka dan melanjutkan pelajaran Bahasa Inggris, pelajaran favorit Alto.

January 4, 2006

Cinta Segi Enam - Part 3

Filed under: Friendship, My Rainbow - alto @ 11:51 am

Part 3

Kelas mulai gaduh saat Bu Anik tak kunjung datang, padahal bel tanda pelajaran dimulai sudah terdengar 15 menit yang lalu. Hal ini dimanfaatkan murid-murid kelas IX H ’berkreasi’ dengan minatnya masing-masing. Ada yang langsung tertidur nyenyak di atas bangku, ada yang membuka ’forum gaul alias ngerumpi yang ga jelas’ dengan teman satu gengnya, ada yang nulis-nulis, ada yang maen bulu tangkis, ada yang main sepakbola, ada yang baca buku, dan sebagainya. Alto sendiri lagi tekun-tekunnya baca buku yang tebel banget…

”Apaan tu Al? Kamus Bahasa Jepang?” tanya Okita yang duduk tepat di depan Alto. Tapi Alto tidak menjawab atau menoleh sekalipun.

”Igh orang nanya kok dikacangin sih? Woiii… Al..!! Heloooo…Enibodi hooomee…??” teriak Okita pada akhirnya tepat di kuping Alto. Sebel sih. Dan tiba-tiba ada sahutan suara lain…

“Woi, sapa manggil mami gua?!”

“Hah?”

Okita bengong, mencari sumber suara dan menemukan bahwa Ardi yang bersuara barusan.

“Kenapa Ar?”

“Kamu tah yang manggil mamiku barusan?”

”Ma…Mami kamu?? Emang namanya sapa?”

”Eni…”

Spontan Okita dan teman-teman sekelasnya ketawa ngakak ngedengernya. Ardi yang baru ngerasa kalo ada yang salah langsung diem, mukanya merah karena dia telah membocorkan rahasia siapa nama ibunya (dengan alasan takut dijadikan guyonan teman-teman sekelasnya).

“Hngg..Ha? Ada apa Ta? Bu Anik da dateng?” jawab Alto pada akhirnya dengan wajah lugu nan tak bersalah, jurus andalannya. Okita pun menggeleng-gelengkan kepala, frustasi dia. Dinda yang sedari tadi duduk di sebelah Okita pun menjawab,

”Bukan, ada gajah terbang di samping kepala kamu! Masa ga liat?”

Dan masi dengan wajah lugu dia mendongak ke atas, melihat Okita berkacak pinggang. Alto manggut-manggut.

”Kamu bisa terbang ya Ta?”

Ctakk!! Alto langsung dijitak Okita.

”Kata sapa aku bisa terbang?? Aku tuh barusan berenang taukk!! Lagian dari mana aja sih kamu Al, ditanyain orang kok ya ga dijawab…”

”Hehehe… Kayak ga tau Alto aja, dia tuh kalo udah baca buku, apalagi Harry Potter yang segede hajah ga bakal ada yang bisa mengganggu gugat, tauk! Mo gempa kek, dunia gonjang-ganjiing kek, dia ga bakal bergeming!” sahut Deva yang duduk di depan Alto. Dan Alto pun cengengesan dengan wajah (sok) imutnya…

December 14, 2005

Cinta Segi Enam - Part 2

Filed under: Friendship, My Rainbow - alto @ 1:10 pm

Ternyata oh ternyata, bola sepak yang dipakai bermain oleh murid-murid kelas IX F memecahkan kaca jendela kelas IX H, kelasnya Alto cs. Oww… Gimana nih? Murid-murid kelas IX F udah pucet semua wajahnya, membayangkan lengkingan amarah Bu Anik, wali kelas IX H yang terkenal dengan wajah dingin berpadu suara sopran saat menyanyi…ops, saat marah-marah pada murid yang bersalah.

Alto cs. spontan berbondong-bondong kembali ke kelas, menengok siapa tahu ada yang terluka. Dari pengamatan terlihat tidak ada korban jiwa, hanya luka gores dan lecet yang dialami oleh Wahyu dan Ardi, karena mereka kebetulan sedang duduk di dekat jendela.

”Ya ampun Ardiii…!! Kamu terluka ya?? Al, suamimu ini loh, lengannya kena kaca tadi… Tolongin donk Al!”

Deva lalu Alto ke arah Ardi. Alto cengo, gelagapan karena otaknya masih loading, menerima respon dari Deva tentang terlukanya Ardi dan mengolah data tentang apa yang harus dia lakukan.

”Yah..malah bengong… Anterin ke UKS, kasih plester ato gimana gitu!”

Okita jadi gemas melihat reaksi Alto yang lambat. Alto baru ngeh, lalu balas menyahut

”Eh, yang bener aja, aku kan bukan istrinya!”

Okita menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berujar lagi dengan sikap keibuan.

”Al, gini ya, kamu kan bawa plester, kasihin ke Ardi. Perintah jelas?”

Alto mengangguk, menerima respon dan segera mengambil plester yang selalu dia bawa di dalam tasnya. Maklum, situasi gawat darurat selalu terjadi setiap saat, apalagi biasanya dia sering memar dan luka-luka waktu berantem sama Ardi.

”Nih.”

Alto mengulurkan plester untuk Ardi. Spontan semua temannya bersorak, seakan-akan ada adegan romantis yang dipertontonkan (ngasih plester dianggep romantis? Yang benar saja…)

”Al, jadi ceritanya cuma buat Ardi nih? Buat aku mana? Kan aku juga kena…”

Ups, maaf ya Wahyu, sampe lupa kalo kamu kena juga hihihi…
Alto mengulurkan plester untuk Wahyu, lalu berjalan kembali menuju Okita, Dinda, dan Deva.

”Al!”

Tiba-tiba Ardi berteriak memanggil Alto. Dia menoleh.

“Thanks ya.”

Alto tersenyum tipis, bagi dia nolongin musuh kali ini jadi pahala tersendiri buatnya. Tapi tentu aja hal ini dianggap beda oleh teman-temannya. Semua bersorak pada keduanya.

“Suit swiwww… Mesranyaa…”

Lagi-lagi mereka, pikir Alto. Kupingnya memerah, wajahnya kayak kepiting rebus (lagi), tanpa sempat menoleh pada Ardi, yang dengan cueknya berkata pada semua temannya,

”Kenapa, ngiri ya?”

Lagi-lagi mereka bersorak, dan bel istirahat masuk pun berbunyi. Mereka membubarkan diri dan kembali ke tempat duduk masing-masing, sambil menanti Bu Anik, wali kelas mereka tercinta yang walau galaknya minta ampun tapi care sama murid-muridnya.

December 9, 2005

Cinta Segi Enam-Part 1

Filed under: Friendship - alto @ 12:11 pm

Cinta Segi Enam

Suatu ketika di SMP Bhineka, ada empat manusia yang sedang duduk-duduk di bangku depan lapangan upacara, di bawah pohon cemara…eh pohon nangka, sambil ngobrol dan sesekali comot jajanan satu di tangan-tangan yang lain…

Yang pertama, berambut lurus agak ikal, dikuncir kuda, big bodi, sepatu berukuran 42, suka upacara pramuka dan bernama Okita. Yang duduk di sebelahnya, berjilbab, berbodi singset padahal makannya banyak, namanya Dinda. Yang sebelahnya lagi, berambut sebahu, berkulit putih, agak sipit, namanya Deva. Dan yang paling ujung, berambut sebahu, agak sipit, pake kacamata, imut (item mutlak), dan tak diragukan lagi bahwa dialah Alto…

”Gals, heran ga seh sampai sekarang aku masih jomblo jugak?” tanya Alto sambil mengunyah cokelat.

”Nggak, aku ga heran kok kalo kamu tetep jomblo sampe sekarang… Gimana ada yang ndeketin kamu coba, kalo ketemu sama cowok aja bawaannya berantem mulu…” ujar Deva tanpa merasa bersalah, padahal Alto udah merem melek pingin…jitakin Deva tentunya.

”Sabar dong Al, bukannya mo belain Deva, tapi gimana ada yang mo deketin kamu coba, kalo kamu sendiri ga bisa jadi cewek sesungguhnya…maksudnya feminin dikit gituh..” sambung Okita.

”Eh, kalian masa ga ngerti, jelek-jelek gini kan Alto ada yang naksir loh!” ujar Dinda tiba-tiba.

Spontan mereka langsung memandang Dinda dan Alto bergantian.

“WHAT?!“

“Sapa lagi pasangan Alto kalo bukan…Ardi!“ jawab Dinda cengengesan. Mereka semua langsung ketawa ngakak, kecuali Alto tentunya yang langsung jutek dilipet tujuh.

“Udahlah Al, ga usah menghindari kenyataan, sapa lagi yang mau diajak sparring patnernya Alto buat berantem? Ga laen dan ga bukan Ardi, kan?“ kata Dinda lagi.

”Kalian ga liat apa, tingkahnya yang childish and nyebelin abis itu? Ga mungkin lah kalo sama dia,” jawab Alto pada akhirnya, dengan mimik muka masih cemberut.

“Tapi aku liat dia sering loh CCP ke kamu..” kata Okita.

“CCP? Curi-curi pandang gitoh? Ga mungkin laa.. Apa maksudnya coba…” kelit Alto. Wajahnya mulai memerah kayak kepiting rebus.

“Ya iyalah…Wong Ardi kalo ulangan tuh suka CCP ke Alto…Minta dicontekin gitoh..” jelas Deva.

Glodak! Krompyang!!

“Apaan tuh?”

December 1, 2005

Alto (again?)

Filed under: My Rainbow - alto @ 12:58 am

Alto emang narsis, jadi mohon dimaafkan :D
———-
Ini deskripsi lengkap tentang Alto :

Physical : Cewek (sebenernya agak diragukan, mengingat tingkahnya yang cowok abiz..). Bertubuh sedang (ndut nggak, kurus jugak nggak) dan tidak proporsional. Berambut lurus sebahu (asli tanpa rebonding). Berkacamata (minusnya banyak). Chubby. Item manis (Imut kata temen-temennya). Rada sipit (kata temen-temen sih kayak orang Jepang…kena radiasi). Suka pake kaos oblong warna item + celana jeans + sepatu sandal yang udah bulukan. Ukuran sepatu 39.

Sifat : Introvert. Stubborn. Over-sensitive. Paranoid. Manja. Pemalas. Setia kawan. Cinta kedamaian. Gokil bin jayus. Lemot. Emosian. Ga suka basa-basi. Cenderung kasar untuk hal-hal yang ga disukai. Write-interest. Cuek.

Ini testimonialnya Alto :

Alto itu sahabatku yang paling aneh sedunia! Kadang-kadang suka niruin suaranya Hamtaro (really, dia childish abiz!), nyolot kalo diajak debat, cuek abiz sampe sering dikira sombong, royal kalo suasana hatinya baek, mengalami kepikunan dini, intelek tapi kuper, manis tapi ga mau dandan, but despite of all, dia orang pertama yang bisa aku percaya untuk curhat. Dia juga lumayan filosofis n bisa menghibur dengan gayanya yang khas. (Okita aka Si Gajah Menari)

Cewek yang lucu banget! Paling asyik kalo diajak nongkrong rame-rame. Walo rada emosian, tapi hatinya baek kok (apalagi kalo nraktir hehehe). (Dinda aka Markonah)

Alto tu orangnya lumayan rame, bisa diajak ngobrol, tapi dibalik itu dia orangnya misterius. Doyan makan, baek banget (coz mau nganterin aku kemana-mana). (Deva aka Ibu Surf)

Cewek aneh yang lucu, gokil, perhatian, selalu semangat, bisa bikin ketawa waktu lagi sedih, bisa diajak curhat,panggilannya ubur-ubur. Coba yah kalo kamu cakepan dikit, pasti takjadiin selingkuhanku =p (Gege aka Cumi-cumi Sok Tampan)

Baek, cerdas, gokil, perhatian, imut (item mutlak), nyebelin kalo muncul evil-nya. (Thia aka Suku Pipi Tembem)

Orang yang udah kuanggap seperti sodaraku sendiri. Suka memanfaatkan diriku untuk jadi ’tempat sampah’, tapi gpp ko sist ^-^ Dia juga suka bikin cerpen&puisi, bagus-bagus loh! Menanti karya terbarumu loh sist ^-^ (Tea aka Superstar Lokal)

Dd yang imut, lucu, nyebelin, nggemesin, kalo ketemu bawaannya pingin njitakin terus ;) (Zan aka Abang Jeyek)

Special someone to me. Walo ceroboh, ’ancur’, telmi, tomboy, cerewet, suka ngambek, gampang jeles, tapi imut, baek, setia, perhatian, nyenengin, ngangenin… Luv u, Princess :-* (Arngrim aka Perwira)

Kira-kira bisa bayangin kan gimana orangnya? ;)

November 28, 2005

New Entry

Filed under: Uncategorized - alto @ 11:47 am

Well, actually this isn’t my first blog, but I try to make it different than the other blog of mine.

It’s about Alina Altoriska, but everyone calling her Alto. Familiar with this name? ;)

Yap, Alto is the center person on “There’s Something About Alto” (U can read it on Galeri Kreasi - BlogFam). U can find her on Cinta Segi Enam (when she’s still in the junior high school), Sohib Tiada Duanya, A New Life (when she’s in senior high school), and the last on There’s Something About Alto. Unfortunately, CSE, STD, ANL can’t find anywhere, I’m losing it T-T (maybe soon or later I’ll try to re-make it ^-^)

28 November 2005

Here I am. Creating my new entry. My new born. I’m Alina Altoriska, but everyone call me Alto. I have a nice family and friends. Maybe you’ve met them. My Mom, Dad, my brothers : Darma and Zan, my close friends : Okita, Dinda, Deva, Gege, Tea, and my beloved one : Arngrim :”) I love them so much… Next time I’ll describe them to you :)

Describe about myself… I’m just an ordinary girl, who’s not perfect, introvert, stubborn, over-sensitive, paranoid, etc. Berambut lurus sebahu, berkacamata, bertubuh sedang, chubby, item manis, tomboy abiz, rajin mencatat. Next time I’ll update more ;)

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here