Cinta Segi Enam - Part 8
”Kamu bisulan, Ta?” tanya Wahyu tiba-tiba. Okita kaget, dan mendengus sebal, ”Enak aja, sapa ngomong gitu?” Wahyu tersenyum dengan tampang innocent, dan berkata, ”Kirain… Ini tentang anak-anak ya Ta?” Okita mengangguk. ”Ada hubungannya sama Alto n Ardi?” Okita mengangguk lagi. ”Sekali lagi kamu ngangguk, aku kasi piring cantik.” Okita nyengir, ngangguk lagi (biar dapet piring cantik gituh. Hehehe).
Okita pun menceritakan apa yang dia rasakan tentang Micha, Alto dan Ardi. Wahyu mendengarkan dengan serius, sambil sekali-kali nyomot kacang bawang yang dia beli di kantin sebelum ketemu Okita. ”Jadi… Micha suka Ardi, Ardi suka Alto, Alto suka Bryan, gitu?” simpul Wahyu. Dia menggambarkan diagram antara mereka berempat.
Dia termenung sejenak. Entah kenapa tiba-tiba dia mengingat Poppy ketika menuliskan Bryan. Poppy, orang yang disayanginya secara diam-diam. Teman sekelasnya yang manis, putih dan berambut sebahu, orang yang baik dan lincah, pintar lagi. Dia termasuk 3 besar di kelasnya, selain Alto dan Ardi. Secara tidak sengaja Wahyu tahu kalau Poppy sangat mengagumi tipe-tipe seperti Bryan, dan itu mau tidak mau membuatnya terpukul. Dia pun menuliskan nama Poppy dan namanya dalam diagram itu.
”Wait wait… Kamu naksir Poppy ya?” sergah Okita waktu melihat nama Wahyu dan nama Poppy dalam diagram itu. Wahyu tidak merespon perkataan Okita, dia sepertinya malah tenggelam di dunia lamunannya sendiri, lamunan tentang Wahyu, Poppy, dan Bryan. Terlihat sosok Poppy yang tersipu malu-malu, memandang ke arah Wahyu. Wahyu pun merasa salah tingkah, jantungnya berdegup kencang. Saat dia akan menghampiri Poppy, ternyata di belakang Wahyu muncul Bryan, yang tanpa malu-malu berlari menuju Poppy, dan sebelum mereka pergi, Bryan memanah Wahyu tepat di hatinya, yang terbelah menjadi dua. Poppy dan Bryan pun melenggang meninggalkan Wahyu yang sedang patah hati…
”Kraukk… Kraukkk…. Kraukkk…” Suara-suara aneh mulai membangunkan Wahyu dari dunia lamunannya. Dilihatnya Okita yang tanpa malu-malu menghabiskan kacang bawang milik Wahyu, hingga yang tersisa hanya bungkusnya. Wahyu cuma bisa melongo, menatap tingkah ajaib kawannya yang doyan makan ini.
